Kamis, 12 Desember 2013

Akademi Angkatan Udara (AAU)






 

Akademi militer ini awal nya merupakan ide dari Marsekal Suryadi Suryadarma yang menjabat sebagai KSAU pada tahun 1953, saat beliau memberi ceramah di sekolah ilmu siasat angkatan ke III dan IV. Dengan bertambahnya kekuatan personil AURI (sekarang TNI AU) sebagai hasil pendidikan di luar negeri, maka untuk mewujudkan suatu lembaga pendidikan calon perwira di tindak lanjuti. Baru pada tahun 1965 sesuai dengan surat keputusan menteri Menteri / Panglima Angkatan Udara no.52 tahun 1965, Wing pendidikan no. 1 Adi Sucipto yang selama ini melaksanakan pendidikan calon Perwira berbagai jurusan, stastus nya di ubah menjadi AKDEMI ANGKATAN UDARA. Akademi ini di kepalai oleh seorang Pati (perwira tinggi) dengan jabatan sebagai Gubernur. Sebagai Gubernur yang pertama yaitu Komodor Muda Udara S. Dono Indarto, dan yang sekarang dijabat oleh Marsekal Muda TNI Bonggas S Silaen , S.IP.

Pataka AAU/ serta tugas pokok
Pada tanggak 29 Juli 1965 Pataka AAU diserahkan oleh Presiden RI ir. Soekarno kepada Komandan Jenderal AAU Komodor Udara S. Dono Indarto. Pataka AAU memuat slogan dan falsafah hidup ksatria “Vidya Karma Vira Pakca,” Vidya berarti pengetahuan, Karma berarti perbuatan, Vira berarti berani, dan Pakca berate melindungi. Kesimpulan arti slogan tersebut adalah setiap perwira hasil godokan kawah candradimuka (AAU) dengan bersenjatakan ilmu sakti yang didapatkan sanggup dan berani bertindak mengamalkan darma baktinya sebagai ksatria yang berani, jujur dan bijaksana berjuang tanpa pamrih demi keselamatan dan kejayaan bangsa dan negara. Pada awal berdirinya, di tetapkan bahwa tugas pokok AAU adalah melahirkan perwira Angkatan Udara yang memiliki watak sebagai seorang warga negara yang berjiwa pancasila, tak kenal menyerah, setia kepada nusa dan bangsa. Sedangkan tujuannya AAU mendidik dan melahirkan perwira-perwira Angkatan Udara yang memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: Pancasilais, berjiwa ksatria, atau pemimpin yang bertanggung jawab, tehnis up to date (terkini), ahli dalam bidangnya masing-masing. 

Dengan demikian untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut maka AAU menyelenggarakan pendidikan yang meliputi : pendidikan mental, fisik,dan kecendikiaan. Tiga sasaran pendidikan ini kemudian menjadi falsafah “ Tri Sakti Viratama” yaitu : Tanggap, Tanggon dan Trengginas. Anak didik diharapkan tanggap dalam meneriama ilmudan berolah piker, Tanggaon berate tahan uji , tekun , dan ulet, trenginas diartikan sigap , terampil dan smapta. Dalam implementasi penugasan seorang perwira juga harus melihat makna tri sakti viratama yaitu memeliki kemampuan mental, cendekiawan, dan phisik. Artinya memiliki mental kuat dan bertangung jawab atas tugas yang di embannya. Cendekiawan mempunyai kemampuan dan kecerdasan tinggi untuk menghadapi medan penugasan. Phisik berarti sehat jasmani tidak mengenal lelah untuk mencapai tujuan menyelesaikan penugasan . seorang calon perwira juga harus tertanam dalam jiwanya “ Dwiwarna Purwa Cedekia Wusana” artinya seorang calon perwira terlebih dahulu mengedepankan jiwa juang (Dwi warna)yang kemudian di dukung oleh intelegensia / kecerdasan serta profesionalisme (Cendikia Wusana). Untuk memdidik mental, AAU menyelenggarakan kuliah-kuliah pengetahuan UUD 45, Pancasila, agama, kepemimpinan, dan latihan militer lain nya. Dengan maksud membentuk dan memupuk manusia Indonesia sejati. Memupuk sifat-sifat keperwiraan Ksatria ndonesia yang berdasarkan tasa ideologi negara, untuk dapat melaksanakan tugasnya di dalam Angkatan Udara Republik Indonesia.

Metode / Sistem Pendidikan
Sistem pendidikan AAU adalah rangkaian kegiatan yang diterapkan dalam pelaksanaan pendidikan. Rangkaian cara atau kegiatan yang diterapkan tersebut berupa ketentuan penyelenggaraan pendidikan yang menggambarkan lingkup kegiatan dan persyaratan pendidikan yang dikaitkan dengan tingkat kualifikasi yang diinginkan. Dengan penerapan sistem pendidikan seperti itu, proses penyelenggaraan pendidikan AAU didasarkan pada program dan pelaksanaan secara tertib serta teratur sehingga dicapai hasil sesuai dengan tujuan penyelenggaraan pendidikan seperti ditentukan dalam kurikulum AAU. Seperti layaknya di perguruan tinggi negeri ataupun swasta AAU juga menerapkan Sistem Kredit Semester (SKS), dalam penye-lenggaraan SKS, setiap mata kuliah diberi nilai kredit yang ditentukan berdasarkan besarnya usaha untuk menyelesaikan tugas-tugas yang dinyatakan dalam program perku-liahan, praktikum/praktik, latihan, dan penyusunan tugas akhir. Serta Satuan Kredit Semester (sks) adalah suatu ukuran yang digunakan dalam bentuk pengakuan atas beban studi Karbol, besarnya usaha yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu program, serta besarnya usaha yang diperlukan untuk menyelenggarakan pendidikan tingkat perguruan tinggi mata kuliahpun juga di kombinasi antara matakuliah militer dan matakuliah umum seperti yang terdapat dalam perguruan tinggi lainnya. AAU menerapkan metode pengasuhan, pengasuhan merupakan metode pelaksa-naan pendidikan dalam bentuk bimbingan dan penyuluhan dengan sasaran berupa penanaman dan pemantapan nilai-nilai budaya serta penguasaan pengetahuan akademis dalam rangka pembentukan prajurit pejuang Saptamarga dengan titik berat pada aspek kejuangan, budi pekerti, tingkah laku, dan kemampuan dalam mengimple-mentasikan kepemimpinan dan keorganisasian.

Pengasuhan merupakan bidang tugas yang secara langsung menjadi tanggung jawab pengasuh/para komandan dalam hal ini Komandan Wing (danwing) karbol. Penilaian bidang kepribadian dilaksanakan secara berkelanjutan selama masa pendidikan. Penilaian ini dilakukan melalui pengamatan baik secara langsung maupun tidak langsung, wawancara, dan pencatatan perilaku sehari-hari karbol oleh pengasuh serta mempertimbangkan pencapaian nilai pengasuhan. Selain metode pengasuhan metode Pengajaran merupakan metode pelaksa-naan pendidikan dalam bentuk kuliah/tatap muka dan instruksional di kelas dengan sasaran penge-nalan/pemahaman/penguasaan ilmu pengetahuan akademis dalam rangka pembentukan kepribadian prajurit pejuang Saptamarga dengan titik berat pada aspek intelektual (kecerdasan). Pengajaran merupakan bidang tugas yang secara langsung menjadi tanggung jawab dosen. Pola pendidikan dalam urunan waktu berlangsung selama tiga tahun plus 12 bulan, yaitu program pendidikan yang pelaksanaanya terbagi menjadi dua kurun waktu, meliputi 12 bulan pendidikan integratif bersama matra lain (darat, laut, udara) dan selama tiga tahun pendidikan di AAU. Prinsip yang digunakan dalam pengasuhan adalah silih asih, silih asah dan silih asuh dengan pendekatan “ Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani” .

Tingkatan-tingkatan dalam pendidikan AAU pun di bagi menjadi empat tingkat. Tingkat I 
Kopral udara Karbol, yang lulus dinaikan menjadi Sersan Udara Karbol. 
Tingkat II 
Sersan Taruna, Yang lulus menjadi Sersan Mayor Udara Dua taruna. (Sermadatar).
Tingkat III
Semadatar, yang lulus naik menjadi Sersan Mayor Udara Satu (Sermatutar)
Tingkat IV
Sermatutar wajib mengikuti ujian akhir dan lulus dilantik sebagai Perwira remaja (Letda)


Karbol
Satu lagi keunikan dari AAU ini adalah para taruna nya menyandang nama KARBOL sebagai sebutan untuk para Taruna AAU ini. Karbol atau Krullebol adalah sapaan bagi Laksamana Madya Udara Profesor Doktor Abdulrahman Saleh (almarhum), saat masih manjadi mahasiswa beliau masih mahasiswa Kedokteran di "Geneeskundige Ilogeschool" Batavia (sekarang "Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia")beliau dikenal sebagai satu-satunya ahli ilmu "Faal" pada saat itu di zaman jajahan pemerintahan Hindia Belanda. Sebagai mahasiswa senior beliau dikenal sebagai orang yang menekuni radiotelegrafi. Bahkan pada zaman pendudukan pemerintah militer Jepang, beliau berhasil merakit stasiun radio amatir di asrama Salemba Jakarta. Di samping itu beliau juga dikenal sebagai mahasiswa yang menekuni mesin-mesin mobil dan mesin-mesin pabrik pada zaman Belanda pada waktu itu boleh dikatakan "Langka". Segala sesuatu yang berkaitan dengan perlistrikan, baik dalam ilmu pengetahuan maupun prakteknya beliau kuasai. Secara fisik, Abdulrahman Saleh yang lahir pada 1 Juli 1909 di Kwitang, Jakarta, adalah seorang Pemuda yang bertubuh tegap, tinggi, berbadan atletis, kulit sedikit gelap dengan rambut keriting (ikal). Dikalangan para dosen (yang kebanyakan orang Belanda) Abdulrachman Saleh dikenal karena otaknya yang cemerlang, inovatif sekaligus kreatif. Meskipun ia adalah orang pribumi, namun pribadi nya tidak kalah dengan mahasiswa lain yang kebanyakan orang Belanda.
Karena berbagai ciri keunggulan, salah seorang dosennya yang orang Belanda sering memanggil Abdulrachman Saleh dengan sebutan Krullebol (si Kriting yang cerdas). penggunaan istilah Karbol pun mendapat de yure. Melalui surat Keputusan Kepala Staf TNI AU Nomor : Skep 179/VII/2000 tanggal 18 Juli 2000. Kasau yang waktu itu dijabat oleh Marsekal TNI Hanafi Asnan memandang perlu adanya aturan tentang penggunaan sebutan Karbol bagi Taruna AAU


Fasilitas AAU
Sebuah akademi sudah sepantas nya mempunyai fasilitas-fasilitas penunjang kegiatan perkuliahan maupun praktikum bahkan juga untuk kegiaatan olahraga ataupun ekstra kuriluler. Di AAU sendiri pada tahap awal perkembangan gedung dan fasilitas-fasilitas lain hingga sekitar tahun 1966 adalah :ruang-ruang kuliah. laboratorium-laboratorium dari mulai laboratorium kimia, minyak, elektronika/computer, metalurgi fisika ,dan bahasa Inggris. Perkantoran terdiri empat flat, dua tingkat yaitu flat Viratama I, II, III, dan IV. Diantaranya terdapat ruang kerja gubernus dan wakil gubernur, 3 ruang kuliah umum (ruang U) masing-masing berkapasitas 160 orang karbol. Untuk tempat tinggal Karbol selama mengikuti pendidikan, di sediakan enam flat dua tingkat yang mampu menampung 720 karbol. Wisma karbol ini dihubungkan langsung dengan ruang makan “ Handrawina,” yang luas. Digedung yang terdapat didepan nya monument pesawat Sky hawk ini pula dapat diselenggarakan berbagai acara atau upacara.

Utuk kegiatan olah raga dalam ruangan terdapat sebuah fasilitas gymnasium “Teleng Krida”, terdapat fasilitas lapangan basket, bulutangkis, dan berbagai macam olah raga beladiri. Di sebelah selatan teleng krida terdapat stadion olah raga yang diberi nama Sasana Krida, di depan stadion ini terdapat dua buah lapangan sepak bola terbuka serta sebuah kolam renang. Menyusul pembangunan tahap ke tiga di tahun 80an sebuah lapangan tembak “Astra Krida,” kolam renang “Tirta Krida,” dan Work Shop terdiri dari empat gedung yang di pergunakan untuk laboratrium : sistim pesawat, sistim senjata, praktek perbekalan, dan pergudangan.
 

 
ini ketemu para karbol di skadik 204 lagi latihan para dasar
 

2 komentar: